Toko Buku Al Hidayah Toko Buku Al Hidayah

Perbedaan Matan, Syarah, dan Hasyiyah dalam Kitab Klasik

Panduan memahami tingkatan teks dalam kitab klasik, lengkap dengan contoh rantai matan–syarah–hasyiyah yang sering dikaji di pesantren.

Wawasan Kitab Diterbitkan Tim Toko Buku Al Hidayah

Saat mencari kitab, Anda mungkin menemukan judul yang tampak mirip tetapi tebalnya jauh berbeda: Taqrib, Fathul Qarib, lalu Hasyiyah al-Bajuri. Ketiganya berkaitan erat. Perbedaannya terletak pada tingkatan teks: matan, syarah, dan hasyiyah.

Matan: teks inti yang ringkas

Matan adalah karya asli seorang pengarang yang berisi pokok-pokok suatu ilmu dengan bahasa yang sangat padat. Karena ringkas, matan mudah dihafal dan sering menjadi bahan hafalan santri. Sebagian matan bahkan ditulis dalam bentuk syair (nazham) agar lebih mudah diingat, seperti Alfiyah Ibnu Malik dan Nazham Imrithi.

Kelebihan matan adalah ringkasnya. Kekurangannya, kalimat yang padat sering sulit dipahami tanpa penjelasan tambahan.

Syarah: penjelasan atas matan

Syarah (syarh) adalah kitab yang menjelaskan matan. Pensyarah menguraikan maksud setiap kalimat, memberi contoh, menyebutkan dalil, dan kadang melengkapi pembahasan yang belum ada dalam matan. Syarah bisa ditulis oleh pengarang lain atau oleh pengarang matan itu sendiri.

Dalam banyak cetakan, teks matan ditandai dengan kurung atau dicetak lebih tebal, lalu penjelasan pensyarah menyusul di belakangnya. Dengan begitu pembaca bisa membedakan kata-kata pengarang asli dan tambahan pensyarah.

Hasyiyah: catatan atas syarah

Hasyiyah adalah catatan pinggir atau komentar yang ditulis atas sebuah syarah. Isinya bisa berupa penjelasan kata sulit, perbandingan pendapat ulama, koreksi, maupun pembahasan lanjutan. Hasyiyah biasanya jauh lebih tebal dan cocok untuk tingkat lanjut atau rujukan pengajar.

Selain ketiga istilah di atas, ada juga mukhtashar (ringkasan dari kitab yang lebih besar) dan ta'liq/taqrirat (catatan-catatan tambahan).

Contoh rantai matan–syarah–hasyiyah

BidangMatanSyarahHasyiyah / lanjutan
Fiqih Al-Ghayah wat Taqrib (Abu Syuja') Fathul Qarib al-Mujib (Ibnu Qasim al-Ghazzi) Hasyiyah al-Bajuri (Ibrahim al-Bajuri)
Fiqih Qurratul 'Ain (Zainuddin al-Malibari) Fathul Mu'in (Zainuddin al-Malibari) I'anatuth Thalibin (Sayyid Bakri Syatha)
Fiqih dasar Safinatun Najah (Salim bin Sumair al-Hadhrami) Kasyifatus Saja (Syekh Nawawi al-Bantani) –
Nahwu Al-Jurumiyah (Ibnu Ajurrum) Mukhtashar Jiddan (Sayyid Ahmad Zaini Dahlan), Syarah Kafrawi –
Nahwu Alfiyah (Ibnu Malik) Syarah Ibnu 'Aqil Hasyiyah al-Khudhari

Dari tabel terlihat bahwa satu matan dapat melahirkan beberapa syarah, dan satu syarah dapat memiliki beberapa hasyiyah. Pesantren biasanya memilih salah satu jalur sesuai tradisi dan kurikulumnya.

Mana yang sebaiknya dibeli lebih dulu?

  • Pemula: mulai dari matan dan hafalkan bagian pentingnya. Pilih edisi bermakna jika belum lancar membaca kitab gundul.
  • Menengah: lanjut ke syarah dari matan yang sudah dikuasai, supaya pemahaman menjadi lebih luas.
  • Lanjutan / pengajar: gunakan hasyiyah sebagai rujukan untuk mendalami perbedaan pendapat dan detail pembahasan.

Koleksi kami dikelompokkan dalam kategori Matan dan Syarah sehingga lebih mudah dicari. Jika judul yang Anda butuhkan belum terlihat di katalog, tanyakan kepada admin kami.

Cari kitab yang dibahas di artikel ini?

Jelajahi katalog kami atau tanyakan langsung kepada admin untuk rekomendasi edisi yang sesuai.

Lihat Katalog Tanya Admin